Sugar Group Companies yang bergerak di perkebunan tebu, pabrik gula dan ethanol membutuhkan staff untuk di tempatkan di Jakarta Office untuk posisi PURCHASING STAFF.
Kualifikasi:
1. Pria & wanita.
2. Pendidikan S1 dari universitas ternama
3. Usia maksimal 25 tahun.
4. Mempunyai pengalaman di bidang PPIC/Purchasing atau Fresh Graduate tetap bisa mengajukan diri.
5. Menguasai MS Office.
6. Menguasai Bahasa Inggris Lisan/Tulisan
7. Bersedia ditempatkan di Jakarta
Bagi yang berminat, dapat mengirimkan lamaran lengkap beserta CV ke alamat email: karma_yudha@sugargroup.com
Lamaran diterima paling telat tanggal 5 Februari 2011.
A group of multinational company (www.monier.co.id) which is world leader in building materials in more than 49 countries, currently seeking special individual who enjoys a dynamic, action-oriented culture, where your contributions are internationally recognized.
Supply Chain Coordinator (Code: SCC) in Tangerang & Surabaya
Reporting directly to Supply Chain & Purchasing Manager Indonesia, this position will be responsible for implementing supply chain system and managing daily operational to meet company objectives in terms of production planning, store, and yard management. To direct the activities of supply chain team accordingly.
Minimum requirements
· Male or Female, minimum Bachelor degree from Industrial Engineering or equivalent.
· Min. 5 years experience in related field, ideally in from manufacturing company.
· Experience in managing the team.
· Have a good knowledge in PPIC Management and Logistic.
· All candidates should have good interpersonal and communication skills, computer
literate is a must.
Applications are treated with strict confidentiality and only short-listed candidates shall be notified.
To apply, please email your career details ASAP, within two weeks (not more than February 6, 2011) to dwiyana.pratiwi@monier.com and evi.rosemery@monier.com

C. Latuconsina, SE, MSc.
Sejalan dengan migrasi ke sistem Enterprise Resource Planning (ERP)
yang baru, sebuah perusahaan yang sebelumnya menerapkan system
informasi yang belum terintegrasi antara production site, Head
Office dan Marketing memperoleh sejumlah keuntungan, termasuk
integrasi data dari mulai supplier bahan baku, barang dalam proses
produksi, tenaga kerja, customer sampai dengan informasi penjualan,
serta percepatan waktu dalam proses pelaporan keuangan. Namun,
terlepas dari kemampuannya meng-handle database dalam jumlah besar,
ternyata ERP yang digunakan oleh perusahaan menyimpan sedikit
masalah yang dapat mempengaruhi analisa dan keputusan manajemen.
Sistem standard costing yang digunakan oleh ERP yang baru,
menghasilkan sejumlah varians biaya produksi yang dihasilkan dari
proses produksi. Standard cost yang dihitung melalui estimasi biaya
dan aktivitas produksi untuk setahun produksi, dan di input dalam
database, akan dijadikan patokan dalam sejumlah proses dalam
production line. Standard cost ini termasuk material rate, labor
rate, factory overhead (FOH) rate dan burden (variable FOH) rate.
Beberapa varians yang dihasilkan dari proses produksi antara lain
adalah purchase price variance, material rate variance, material
usage variance, price revaluation variance, labor rate variance,
labor usage variance, burden rate variance, account payable usage
variance, dan account payable rate variance, yang terakumulasi pada
akhir periode pelaporan.
Masalah yang muncul pada laporan keuangan akhir periode adalah nilai
persediaan di neraca disajikan dengan nilai standar, sedangkan semua
variance akan timbul pada laporan laba rugi. Tiba saatnya bagi
manajemen untuk mengukur efisiensi dari biaya produksi secara total,
berapakah sebenarnya biaya yang dikeluarkan dan termasuk dalam
persediaan hasil produksi, yang terjual dan yang masih tersimpan di
gudang pabrik. ERP yang ada saat ini tidak mempunyai fasilitas untuk
menghitung dan mengalokasikan varians keluaran dari proses produksi
ke masing-masing unit persediaan secara otomatis, sehingga alokasi
varians harus dilakukan secara manual. Beberapa perusahaan yang
menggunakan ERP sejenis tampaknya tidak menaruh perhatian terhadap
alokasi varians ini, padahal, sebagaimana akan terlihat pada bagian
akhir tulisan ini, pengalokasian varians yang tepat sebenarnya dapat
memberikan masukan bagi manajemen dalam menganalisa, mengevaluasi
dan
memperbaiki kinerja operasinya.
Sebagaimana lazimnya proses pabrikasi lainnya, dengan sedikit
perbedaan, maka persediaan di PTEI juga akan terbagi menjadi
beberapa unsur,yaitu raw material, packing material, work in
process, half finished goods dan finished goods. Pembedaan
terminologi work in process dan half finished goods hanya
mencerminkan kondisi beberapa persediaan setengah jadi (half
finished) yang bisa langsung dijual atau diproses lebih lanjut (work
in process). Mengingat keinginan manajemen untuk mengidentifikasi
besarnya biaya yang diserap oleh setiap unsur persediaan, sehingga
proses estimasi penentuan laba per unit dari setiap item dan biaya
produksi dapat dilakukan, maka masalah alokasi atas akumulasi
varians yang muncul ke masing-masing jenis persedian harus
diperhitungkan. Yang menjadi tantangan adalah PTEI bergerak dalam
industri farmasi dan menghasilkan lebih dari 30 jenis obat dan
masing masing jenis membutuhkan beragam bahan baku sebagai input,
berdasarkan formulasi yang beragam, sehingga pengalokasian setiap
varians yang berasal dari pembelian bahan baku, pemakaian bahan
baku, tenaga kerja dan biaya overhead pabrik menjadi sebuah proses
yang tidak sederhana.
Setelah melalui pembahasan dan penghitungan yang detail, akhirnya
dibuat rumusan untuk alokasi varians. Perhitungan alokasi varians
belum dilakukan dengan metode activity based accounting, dengan alas
an masih terdapat banyak aktivitas yang sulit ditelusuri cost
drivernya. Namun dengan pendekatan serupa, serta dengan
mempertimbangkan beberapa keterbatasan seperti sulitnya
mengidentifikasi alokasi jumlah unit bahan baku yang digunakan untuk
multi produk yang melewati beberapa proses di floor produksi, common
cost yang muncul pada biaya tenaga kerja dan overhead yang tidak
selalu terkait dengan jam kerja buruh dan mesin, atau penyimpangan
yang terlalu jauh bila hanya menggunakan kuantitas sebagai dasar
alokasi dan sebagainya, akhirnya diputuskan untuk mengalokasikan
varians tersebut ke unit produksi dengan dasar alokasi pada table di
bawah ini:
Jenis Varians Dasar Alokasi ke unit produksi
Purchase price variance Nilai Purchase Order (Issued PO)
Material rate variance Nilai Work Order (Issued WO)
Material usage variance Nilai Work Order (Issued WO)
Price revaluation variance Biaya revaluasi aktual
Labor rate variance Total biaya tenaga kerja
Labor usage variance Jumlah jam kerja buruh
Burden rate variance Jumlah jam kerja mesin
Account payable usage variance Biaya aktual
Account payable rate variance Biaya actual
Dalam menghitung alokasi ini, juga mempertimbangkan asumsi arus
barang berdasarkan First In First Out (FIFO) yaitu asumsi bahwa
barang pertama masuk ke dalam produksi merupakan barang yang pertama
keluar sebagai output produksi. Dengan demikian varians yang melekat
pada saldo awal persediaan finished goods, yang diperoleh melalui
perhitungan saat migrasi sistem ke ERP dilakukan, bila ternyata pada
akhir periode berdasarkan asumsi FIFO sudah tidak ada di persediaan
akhir, maka seluruh varians dari saldo awal tersebut akan dibebankan
ke Cost of Goods Sold (COGS) yaitu harga pokok penjualan. Sedangkan
bila ternyata tidak semua persediaan finished goods yang ada di
saldo awal bisa terjual, maka sebagian varians akan melekat di saldo
akhir persediaan yang tidak terjual. Asumsi FIFO digunakan karena
jauh lebih sederhana dibandingkan dengan metode Weighted Average
(rata-rata tertimbang) yang menghitung rata-rata nilai persediaan
setiap kali terdapat penambahan atau persediaan sepanjang proses
produksi, dan mengikuti kemampuan ERP yang digunakan.
Cara pengalokasian varians juga menggunakan cara yang paling
sederhana yaitu secara proporsional dengan menggunakan dasar alokasi
pada tabel di atas. Sehingga suatu proses produksi yang melewati
beberapa tahap proses akan melalui alokasi varians secara
proposional ke dari satu proses ke proses berikutnya. Pada dasarnya,
karena akumulasi dari varians baru diketahui pada akhir periode,
maka pengalokasian ke unit produksi langsung pada saat terjadi
varians tidak dilakukan. Hal ini menyebabkan pengalokasian varians
dilakukan secara proporsional hanya pada akhir periode ke masing-
masing unit produksi yang terjual dan yang tertinggal di persediaan
akhir, juga meninggalkan distorsi dari nilai persediaan aktual
setelah alokasi dilakukan.
Dengan menggunakan metode ini ada beberapa keuntungan yang bisa
diperoleh:
1. Metode tidak terlalu rumit untuk diimplementasikan.
2. Analisa dari biaya aktual setelah alokasi untuk setiap jenis
unit produksi dapat dilakukan dengan lebih baik.
3. Sebagai early warning sistem atas terjadinya proses produksi
yang tidak baik.
4. Kemampuan manajemen dalam melakukan rencana produksi yang
lebih baik dengan mengurangi varians yang berlebihan akibat proses
produksi yang tidak favorable.
5. Memperbaiki secara periodik rate standard yang belum tepat
sehingga selisih antara aktual dan standar tidak terlalu besar.
6. Memperbaiki analisa atas Cost of Goods Manufactured dan Cost
of Goods Sold.
7. Masukan bagi strategi pemasaran untuk pricing strategy dan
fokus atas segmen pasar yang menjadi target, berdasarkan perhitungan
unit cost aktual.
8. Menjadi pertimbangan oleh Top Management dalam melakukan
profit planning.
Namun metode ini juga tidak terlepas dari beberapa kelemahan
mendasar:
1. Distorsi yang tidak bisa dihindari karena sistem ERP tidak
melakukan alokasi langsung ke masing-masing unit produksi saat
varians terjadi, dan terakumulasi hanya pada total varians di akhir
periode.
2. Sulitnya menentukan cut-off dari timing alokasi varians
dilakukan, terutama untuk varians yang terjadi pada level work in
process pada routing awal yang kemudian tersebar pada beberapa
routing di proses produksi level berikutnya. Mengingat terdapat
puluhan production line yang harus dilakukan berbagai alokasi
varians, pertanyaan seperti kapan suatu varians harus ditambahkan
dulu oleh varians yang lain sebelum dialokasikan kembali akan sulit
dijawab karena tidak adanya penentuan cut-off tersebut.
3. Simplifikasi alokasi varians yang menggunakan metode
proporsional juga dapat menyebabkan distorsi dalam penilaian
persediaan
Perusahaan yang menggunakan ERP dalam kegiatan operasinya sebaiknya
mempertimbangkan hal-hal di atas, mengingat perbedaan perlakuan atas
pentingnya alokasi varians antar perusahaan. Bila perusahaan Anda
ternyata memiliki kepedulian tentang hal ini, ada baiknya sebelum
Anda memilih implementasi ERP tertentu, Anda mempertimbangkan apakah
ERP memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan alokasi varians,
atau perusahaan Anda dengan keterbatasan dana yang ada, memiliki
kompetensi yang cukup dan lebih cost efficient untuk mengembangkan
ERP dalam mengantisipasi masalah varians tersebut.
Sumber:
http://www.erpweaver.com/
- Position: Junior Professional Services Engineer for CA Spectrum, CA Ehealth & CA NetQoS
- Location: Jakarta
- Required Education / Experience:
* A degree or below in computer science or a related field.
* Familiarity with networked/distributed computing environment concepts
* Ability to write scripts in some administrative language (Perl, Shell).
* Programming experience in any applicable language.
* Exposure to system design & architecture is desired
- Required Skills:
* Independent, problem-solving, self-direction
* Familiarity with fundamental networking/server monitoring and creating the templates for monitoring of all the hardware and Software elements
* Ability to troubleshoot the tool by self and by coordinating with the vendor support.
* Ability to write scripts in some administrative language (Perl, Shell).
* Comfortable with most aspects of monitoring tool administration; for example, configuration and implementing alerts for all the required H/W and S/W components.
- Appropriate Responsibilities:
* CA Spectrum, CA Ehealth & CA NetQoS tool planning and implementation. Enabling new monitoring features based on the requirements from clients
* Administers a small, uniform site alone or assists in the administration of a larger system.
* Establishes/recommends policies on system use and services.
* Should recognize and troubleshoot problems with the tool. Establish and document standards and procedures for management review.
* Will be responsible to create, implement or recommend process refinement opportunities making the monitoring more efficient.
* Should identify automation opportunities that will reduce the amount of hands on support.
* Provides day-to-day support of CA Spectrum, CA Ehealth & CA NetQoS.
* Should take advantage of proactive monitoring/automation tools in order to eliminate outages or service variations.
* Responsible for preparing reports and participate in review meetings
Please send resume or CV with expected salary to: pd@profaxtor.com
Naklukin SAP Business Intelligent: Buat pemilik adrenalin tinggi
Coba sampeyan iseng sekali-kali searching ke "Monster"
(www.monster.com). Itu tuh mesin pencari lowongan pekerjaan. Ketik
kata kunci SAP. Untuk di Jerman saja ada lebih dari 5.000 lowongan
kerja yang hari ini tersedia. Lalu disusul JAVA hampir 3.000,
Microsoft hampir 2.700, SQL 2.500 dan Oracle 2.000-an.
Dari lebih 5.000 lowongan tadi hampir 800 diantaranya khusus untuk
ahli SAP BW (Business Information Warehouse). Data Monster itu tidak
jauh berbeda untuk negara-2 Eropa lainnya dan Amrik. Pertanyaannya,
kenapa SAP BW begitu primadona? Begitu cantikkah dia sehingga si
penakluk SAP BW menjadi incaran?
XXX
Pak Dhe Inmon (baca: William H. Inmon) konon khabarnya pernah berpikir
untuk apa kita punya banyak catatan, data dan transaksi tapi kita
tidak tahu mana yang paling kita butuhkan?! Untuk apa data tapi tidak
bisa menampilkan informasi yang paling berguna buat pengambil
keputusan?! Lha untuk apa data seabrek-abrek tapi ndak tahu bagaimana
menggunakannya?! Buang-2 biaya aja! — mungkin begitu pikir si Pak
Dhe Inmon.
Akhirnya, Pak Dhe Inmon buat metoda yang dikenal Data Warehouse (DW).
Pokoknya semua data yang tersimpan; dari berbagai tipe, berbagai
sumber, berbagai system yang berceceran dimana-2, melalui jaringan
online ditumplekkan, plek jadi satu (bahase Jakarte-nye: integrasi)
lalu diproses untuk jadi gold informasi untuk pengambilan keputusan.
Itulah kerjaannya si Pak Dhe Inmon yang akhirnya kelak dikenal sebagai
Bapaknya konsep DW. Okya lupa, Proses njlimet dan njelehi tadi dikasih
nama OLAP: Online Analytical Processing.
XXX
Nah oleh perusahaan SAP AG yang ada di pedesaan Walldorf (bener-2 desa
lho, penduduknya cuma 15.000 orang tapi desa terkaya di Eropa), konsep
DW tadi dibuatin tool-nya. Trus dinamai: SAP BW (Business Information
Warehouse). Oleh si BW ini, ide Pak Dhe Inmon tentang Data Warehouse
diwujudkan menjadi nyata.
Semua data yang berceceran ndak karuan dalam jaringan perusahaan dari
berbagai:
(1) data base system (Oracle, SQL, DB2)
(2) type file dan dokumen (bangsanya "CSV" ato "XML", dll)
(3) standard software (model SAP system atau non SAP System,
ERP/Enterprise Resources Planning)
(4) Sumber System (JDBC, ODBO, dll)
dikumpulin jadi satu, lalu diolah pake OLAP sehingga dihasilkan
laporan yang konon katanya akurasinya lebih jitu dari ramalan Mama
Laurent, Ki Gendeng Pamungkas atau yang Abrakadabra se-tipenya.
Kok bisa? Yah karena SAP BW bisa melakukan impossible job itulah,
ngalahin mbah dhukun, maka harga proyek untuk implementasi SAP BW
mahalnya tiada terkira.
Okya, konon khabarnya masih banyak eksekutif di kampung melayu
tercinta, yang saat buat keputusan bingung, ndak tahu bagaimana
menggunakan data.
Jadi untung juga yah SAP BW itu mahal. Coba kalau murah maka semua
perusahaan pake SAP BW.
XXX
Tapi bagaimana sih sebenarnya cara kerja SAP BW itutuh…?
Gampang kok:
(1) Data yang berceceran dari berbagai type, jenis, data base dan
system tadi, oleh SAP BW disimpan dalam DataSource atau PSA (Persisten
Staging Area).
Meskipun datanya sudah terkumpul jadi satu dalam sistem SAP BW,
sayangnya masih acak-acakkan. Belum ada pengelompokan data menurut
klasifikasinya.
Contoh: Data yang dikumpulkan adalah data penjualan berbagai produk
(Pecel Lele dan Intel/Indomie pake Telur) di berbagai pasar
(Bringharjo, Klewer dan Tanah Abang).
Maka data yang ada di PSA kira-2 misalkan:
# data penjualan pecel lele dan intel (indomie pake telur) di Pasar
Bringharjo
# data penjulan pecel lele dan intel di Pasar Klewer
# data pecel Lele dan intel di Pasar Tanah Abang
(2) Lalu data dari berbagai sumber ndak karuan tersebut dipilah-2.
Proses pemilihannya menggunakan InfoObjekt. Objekt data yang sama akan
disatukan dalam satu InfoObjekt. Dalam SAP BW ada 2 jenis InfoObjekt
yaitu Attribute dan Key Performance Indicator (KPI).
Contoh:
Atribut buat Penjualan Pece Lele
Atribut buat Penjualan Intel
Atribut Pasar Klewer
Atribut Pasar Bringharjo
Atribut Pasar Tanah Abang
Atribut Tahun Jualannya
KPI omset penjualan
KPI unit penjulan
(3) Setelah proses pemilahan selesai lalu data yang ada di DataSource
dipindahkan ke ODS-Object. ODS-Objekt itutuh adalah tempat penyimpanan
data yang telah dipilah-2 sesuai dengan Objekt-nya. Nah, di ODS-Objekt
ini data-2 yang awalanya ndak karuan sudah dirubah menjadi homogen.
Data yang tersimpang dalam ODS-Objekt adalah kombinasi Data Penjualan
Pecel Lele dan Intel di pasar Bringharjo, Klewer dan Tanah Abang dalam
file SAP BW.
Di ODS-Objekt inilah semua data tumplek-plek siap saji…
(4) Cuma karena data-nya banyak buanget dan tidak semua data
dibutuhkan maka perlu dibuat segmentasi atau bahasa kerennya DataMart.
Data dalam ODS-Objekt dipilah-pilah (di-segmentasi) sesuai kepentingan
dan disimpan dalam InfoCube.
Contoh:
InfoCube untuk Penjualan Pecel Lele di ketiga pasar
InfoCube untuk Penjualan Intel di ketiga pasar
InfoCube untuk Penjualan Pecel Lele dan Intel di Pasar Beringharjo
Dll, pokoknya terserah mau-2nya sampeyan aja deh berapa InfoCube yang
mau dibuat :D Yang penting bisa untuk mengambil keputusan akurat…
(5) Setelah itu dengan menggunakan Query Designer, informasi yang ada
di InfoCube dapat ditampilkan menjadi Laporan dalam file Excel Interaktif.
Contoh:
Laporan Penjualan Pecel Lele di Pasar Beringharjo, Klewer dan Tanah Abang
Laporan Penjualan Pecel Lele dan Intel di Pasar Klewer dan Tanah abang
Dsb, dsb…sekarepe sampeyan lah buatnya. Lha wong laporan-2 sampeyan
sendiri yah buat aja sesuka-sukanya. Gitu aja kok repot! :p
(6) Biar lebih keren sehingga bisa diakses secara online maka gunakan
dong yang mananya tool Web Application Designer. Dengan tool ajaib ini
laporan bisa disajikan dalam Web Explorer dan bisa diakses oleh mereka
yang berkepentingan dimanapun dengan menggunakan internet.
(7) Setelah itu yah sudah ambil keputusan; ekspansi atau ekspansi atau
ekspansi! Lha wong informasi sudah begitu akurat kok masih ragu ambil
keputusan. Kalau dengan informasi seakurat itu masih ragu dan kleru
juga ambil keputusan maka jangan salahkan SAP BW-nya, tapi itu saat
yang tepat buat sampeyan mengundurkan diri dari posisi eksekutif.
Alias sampeyan ndak becus jadi eksekutif ha…, ha… =))
XXX
Jadi, gampangkan menguasai SAP BW itu, iya ndak???
Upss bo'ong deng. Untuk memahami inchi demi inchi lekuk-lekuk eksotik
tubuh SAP BW, saya harus menamatkan lebih dari 15 modul trainning yang
tebal totalnya hampir 7.000 halaman.
Kalau mau belajar SAP mungkin link ini berguna:
http://www.4soi.de/online-pdfs.php
Kalau mau belajar SAP BW buat yang bisa B. Jerman maka link ini amat
sangat berguna:
http://www.phutter.de/
Salam,
Dari Lembah Sungai Spree
Ferizal Ramli
SAP Senior Consultant dan Project Manager
ACENT AG
10179 Berlin

0